Halaman

Sabtu, 28 Januari 2012

KONSEP MOBILE LEARNING DAN STRATEGI PNERAPAN PADA PERKULIAHAN

M-Learning atau mobile learning memang telah menjadi tren pada beberapa tahun terakhir. Banyak sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia mengadopsi sistem. Namun,perkembangan teknologi ini masih sangat kurang optimal dirasakan di Indonesia, mengingat banyak keterbatasan yang dihadapi.Untuk mendukung m-Learning di sekolah, banyak sekali hal yang perlu dilakukan. Pengadaan infrastruktur, biasanya setelah infrastruktur dibangun dan ruang kelas online tersedia, maka dilaksanakanlah pelatihan dan sosialisasi dari sistem yang baru saja dibangun. Dalam pelatihan tersebut para staf pengajar akan diperkenalkan dengan ruang kelas virtual yang ada, termasuk bagaimana membuat kelas online, mengupload bahan ajar, melakukan pendaftaran siswa, proses evaluasi, dsb. Berdasarkan data sebanyak 70% dari total jumlah seluruh penduduk di Indonesia menggunakan perangkat seluler (Goswami, 2007:25) atau sekitar 150 juta penduduk Indonesia menggunakan perangkat seluler yang juga dapat dikatakan sebagai perangkat bergerak atau mobile devices. Kenyataan ini dapat menjadi peluang bagi Institusi Pendidikan untuk menyelenggarakan proses pembelajaran dengan memanfaatkan perangkat bergerak sebagai media atau yang lebih dikenal sebagai mobile learning.Mobile learning merupakan bagian dari pembelajaran elektronik atau lebih di kenal dengan e-learning. (Georgiev, Georgieva & Smrikarov, 2006).
Terkait dengan jumlah pengguna perangkat bergerak yang banyak di Indonesia, mobile learning dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk memecahkan permasalahan dalam bidang pendidikan, terutama masalah pemerataan akses infomasi pendidikan, kualitas konten pembelajaran yang berupa materi pembelajaran dengan bentuk teks ataupun gambar disertai dengan contoh-contoh soal serta peningkatan kualitas pengajar/guru agar lebih baik dalam membuat atau menyampaikan materi pembelajaran dan mengelola kegiatan belajar mengajar.WAP adalah protokol pada jaringan seluler (GSM,CDMA,dll) untuk memberikan layanan internet lewat ponsel. Teknologi ini memungkinkan pelanggan menikmati fasilitas internet yang beraneka ragam. WAP menggunakan bahasa komputer WML (Wireless Markup Language), sehingga ponsel hanya dapat mengakses situs web yang telah diformat khusus untuk aplikasi WAP. Untuk itu dalam penelitian ini dibuat aplikasi berbasis WAP untuk mengakses materi pembelajaran. Penelitian tentang kondisi pembelajaran konfensional di sekolah-sekolah menengah pertama sangat perlu dilakukan guna mendapatkan hasil yang komprehensif tentang kondisi Proses pembelajaran, kurikulum, kemampuan siswa, kemampauan guru dan dukungan media pembelajaran termasuk infrastruktur komunikasi data serta perangkat komunikasi bergerak sebagai salah satu tools pembelajaran m-learning.

II.      M-Learning
Pengembangan terhadap sistem m-learning diharapkan dapat memiliki prospek yang cukup baik sebagai variasi dalam belajar siswa, m-learning tidak dapat menggantikan proses belajar konvensional karena sifat dari m-learning bukan untuk memahamkan sebuah konsep tetapi lebih cenderug untuk mengingatkan materi yang telah didapat pada model konvesional. Arsitektur dari m-learning dapat kita lihat seperti pada gambar.
Beberapa latar belakang pengembangan m-learning adalah :
· Penggunaan atau kepemilikan telepon seluler lebih banyak dibanding kepemilikan
Personal Computer.
· Tuntutan akan pengembangan pembelajaran yang praktis dan mudah diakses
dikaitkan dengan gaya hidup modern sekarang ini.



III. Persyaratan M-Learning
Persyaratan sistem untuk perancangan m-learning dilakukan dengan menguraikan input, proses, Output, dan kinerja yang harus dipenuhi oleh sistem.
a.    Input
Sistem m-learning dipergunakan untuk memberikan alternatif sumber belajar yang praktis, aktifitas administrator m-learning tersebut meliputi : memasukkan data user, guru, kontent, quiz, topik, forum, FAQ, dan problem asking baru.

b.    Proses
Sistem m-learning mempunyai fungsi yang setandar dalam pengelolaan database
yaitu yang meliputi fungsi tambah data (insert), memperbaiki data (update), hapus (delete), untuk kemudahan dalam pengendalian diperlukan fungsi pencarian (searching), penggabungan tabel dalam basis data pada sitem ini sehingga dihasilkan Output yang dijadikan format untuk laporan-laporan.

c.     Output
Output yang diharapkan dalam sistem m-learning ini adalah untuk mendapatkan data sebagai berikut : informasi peserta didik sebagai user, nara sumber sebagai guru/tutor, kontent pembelajaran, FAQ, nilai quiz, problem asking, topik forum serta forum.

d.    Kinerja
Sistem m-learning yang dirancang akan mempunyai keistimewaan sebagai berikut.
1) Konten didisain secara khusus untuk lingkungan mobile dan tidak dengan serta
merta men-transfer dari konten yang ada;
2) Sistem m-learning dengan memperhatikan karakteristik pengguna
3) Memanfaatkan waktu idle yang dapat terhenti dan diteruskan sewaktu-waktu
4) Tujuan konten m-learnig bukan untuk “memahamkan” tapi lebih ke
mengingatkan”;
5) Sistem keamanan sistem perangkat lunak dengan membatasi (membagi hak) akses
pemakai yang diaplikasikan pada fungsi login
6) Perangkat lunak dapat diakses secara multi user (client server)
7) Penggunan m-learning tidak terbatas oleh waktu dan ruang;
8) M-learning yang dikembangkan adalah sistem yang user friendly

Dengan keistimewaan tersebut di atas dapat meningkatkan kinerja sistem m-learning pada kemudahan dalam penggunaan oleh pemakai, penggunaan bersama m-learning dengan dibatasi hak akses akan mempercepat proses intri data pada proses bisnis m-learning.

IV.  Ruang lingkup m-learning dibagi menjadi 2 bagiam besar, WAP dan WEB
A. Sisi WAP untuk user dan tutor:
1. Content
2. Quiz
3. Forum
4. FAQ (Frequently Ask Question)
5. Help
B. Sisi WEB untuk tutor, admin, dan user yang daftar:
1. Content Manager
2. Quiz
3. Forum
4. FAQ (Frequently Ask Question)
5. Help
6. Administrator

V.      Pengertian Istilah M-Learning
Istilah mobile learning (m-Learning) mengacu kepada penggunaan perangkat/divais teknologi informasi (TI) genggam dan bergerak, seperti PDA, telepon genggam, laptop dan tablet PC, dalam pengajaran dan pembelajaran. M-Learning merupakan bagian dari electronic learning (e-Learning) sehingga, dengan sendirinya, jugamerupakan bagian dari distance learning (d-Learning) (Gambar 1).
Gambar 1. Skema dari bentuk m-Learning
Beberapa kemampuan penting yang harus disediakan oleh perangkat pembelajaran m-Learning adalah adanya kemampuan untuk terkoneksi ke peralatan lain (terutama komputer), kemampuan menyajikan informasi pembelajaran dan kemampuan untuk merealisasikan komunikasi bilateral antara pengajar dan pembelajar. M-Learning adalah pembelajaran yang unik karena pembelajar dapat mengakses materi pembelajaran, arahan dan aplikasi yang berkaitan dengan pembelajaran, kapan-pun dan dimana-pun. Hal ini akan meningkatkan perhatian pada materi pembelajaran, membuat pembelajaran menjadi pervasif, dan dapat mendorong motivasi pembelajar kepada pembelajaran sepanjang hayat (lifelonglearning). Selain itu, dibandingkan pembelajaran konvensional, m-Learning memungkinkan adanya lebih banyak kesempatan untuk kolaborasi secara ad hoc dan berinteraksi secara informal diantara pembelajar.

VI. Kelebihan M-Learning
Beberapa kelebihan m-Learning dibandingkan dengan pembelajaran lain adalah:
• dapat digunakan dimana-pun pada waktu kapan-pun,
• kebanyakan divais bergerak memiliki harga yang relatif lebih murah dibanding
harga PC desktop,
• ukuran perangkat yang kecil dan ringan daripada PC desktop,
• diperkirakan dapat mengikutsertakan lebih banyak pembelajar karena m-
Learning memanfaatkan teknologi yang biasa digunakan dalam kehidupan
sehari-hari.
Dalam pembelajaran e-Learning, independensi waktu dan tempat menjadi faktor penting yang sering ditekankan. Namun, dalam e-Learning tradisional kebutuhan
minimum tetap sebuah PC yang memiliki konsekuensi bahwa independensi waktu
dan tempat tidak sepenuhnya terpenuhi. Independensi ini masih belum dapat
dipenuhi dengan penggunaan notebook (komputer portabel), karena independensi
waktu dan tempat yang sesungguhnya berarti seseorang dapat belajar dimana-pun
kapan-pun dia membutuhkan akses pada materi pembelajaran.


VII. Kekurangan M-Learning
       Meski memiliki beberapa kelebihan, m-Learning tidak akan sepenuhnya menggantikan e-Learning tradisional. Hal ini dikarenakan m-Learning memiliki
keterbatasan-keterbatasan terutama dari sisi perangkat/media belajarnya.
Keterbatasan perangkat bergerak antara lain sebagai berikut.
1. Kemampuan prosesor
2. Kapasitas memori
3. Layar tampilan
4. Catu daya
5. Perangkat I/O

Kekurangan m-Learning sendiri sebenarnya lambat laun akan dapat teratasi khususnya dengan perkembangan teknologi yang semakin maju. Kecepatan prosesor pada divais semakin lama semakin baik, sedangkan kapasitas memori,
terutama memori eksternal, saat ini semakin besar dan murah. Layar tampilan yang relatif kecil akan dapat teratasi dengan adanya kemampuan divais untuk menampilkan tampilan keluaran ke TV maupun ke proyektor.
Gambar 2. Tampilan keluaran ke proyektor
Masalah media input/output yang terbatas (hanya terdiri beberapa tombol) akan
teratasi dengan adanya teknologi layar sentuh (touchscreen) maupun virtual
keyboard.
Gambar 4. Virtual keyboard
Keterbatasan dalam ketersediaan catu daya akan dapat teratasi dengan pemanfaatan sumber daya alternatif yang praktis, mudah didapat dan mudah dibawa, seperti baterai cair, tenaga gerak manusia, tenaga matahari dan lain-lain.
Gambar 5. Proses pengisian daya dengan baterai cair

VIII.        JENIS KONTEN
Konten pembelajaran dalam m-Learning memiliki jenis bermacam-macam. Konten sangat terkait dengan kemampuan divais untuk menampilkan atau menjalankannya. Keragaman jenis konten ini mengharuskan pengembang untuk membuat konten-konten yang tepat dan sesuai dengan karakteristik divais maupun pengguna.

IX.               Teks

Kebanyakan divais saat ini telah mendukung penggunaan teks. Hampir semua telepon seluler yang beredar saat ini telah mendukung penggunaan SMS.Kebutuhan memori yang relatif kecil memuat konten berbasis teks lebih mudah diimplementasikan. Namun, keterbatasan jumlah karakter yang dapat ditampilkan harus menjadi pertimbangan dalam menampilkan konten pembelajaran sehingga perlu strategi khusus agar konten pembelajaran dapat disampaikan secara tepat dan efektif meskipun dengan keterbatasan ini. Salah satu contoh aplikasi pembelajaran berbasis teks/SMS adalah StudyTXT yang dikembangkan di salah satu Universitas di Selandia baru.

X.         Gambar

Divais bergerak yang ada sekarang telah banyak mendukung pemakaian gambar.
Kualitas gambar yang dapat ditampilkan dapat beragam dari tipe monokrom sampai gambar berwarna berkualitas tinggi tergantung kemampuan divais. File gambar yang didukung oleh divais umumnya bertipe PNG, GIF, JPG. Penggunaan
gambar sebagai konten pembelajaran biasanya digabungkan dengan konten lain, misalnya teks.
Gambar 7. Divais bergerak menampilkan gambar

XI.      Audio

banyak perangkat bergerak saat ini telah mendukung penggunaan audio. Beberapa tipe file yang biasanya digunakan di lingkungan divais bergerak antara lain rm, mp3, amr dan lain-lain. Oleh karena file audio biasanya memiliki ukuran yang cukup besar, menyebabkan file audio tersebut harus diolah terlebih dahulu sehingga dapat digunakan di lingkungan divais bergerak yang memiliki kapasitas
memori yang relatif kecil.

XII.  Video

Meski dalam kualitas dan ukuran yang terbatas, beberapa tipe divais bergerak telah mampu memainkan file video. Format file yang didukung oleh divais bergerak antara lain adalah 3gp, MPEG, MP4, dan lain-lain. Sama seperti file audio, kebanyakan file video memiliki ukuran yang cukup besar sehingga harus dikonversi dan disesuaikan dengan keterbatasan divais.
Gambar 8. Divais bergerak menampilkan video

XIII.   Aplikasi Perangkat Lunak

Konten yang cukup menarik adalah aplikasi perangkat lunak yang dipasang pada divais. Perangkat lunak dapat dikostumisasi sesuai kebutuhan sehingga akan lebih mudah dan intuitif untuk digunakan. Aplikasi perangkat lunak ini juga mampu menggabungkan konten-konten lain seperti teks, audio dan video sehingga menjadi lebih interaktif. Jenis aplikasi yang saat ini banyak digunakan antara lain aplikasi berbasis WAP/WML, aplikasi Java, aplikasi Symbian, dan lain-lain.

M-Learning akan cukup tepat jika diterapkan di lingkungan dimana computer aided learning tidak tersedia. Hal ini dikarenakan pengguna yang telah terbiasa dengan penggunaan PC sebagai media belajarnya, ternyata lebih suka tetap memakai PC, sedangkan mereka yang tidak familiar dengan PC merasa penggunaan divais bergerak lebih atraktif dan lebih dapat diterima. Sistem yang optimal adalah menggabungkan m-Learning dengan m-Learning, dimana ada alternatif proses pembelajaran dilakukan dengan perangkat komputer dan/atau divais bergerak atau digabungkan dengan sistem tradisional.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengembangan m-Learning adalah bahwa tidak semua konten pembelajaran konvensional maupun konten pembelajaran m-Learning akan dapat ditransformasikan ke dalam konten m-Learning. Pengembangan pembelajaran mobile learning merupakan wacana baru yang masih perlu dieksplorasi dan dikaji lebih jauh sehingga nantinya dapat dihasilkan model pembelajaran berbasis mobile yang efektif, murah dan terjangkau.

XIV.   Tujuan dari perancangan sistem m-learning ini adalah :

a. Memberikan alternatif lain dalam pembelajaran konvensional dengan menggunakan m-learning.
b. Mengingatkan kembali materi pembelajaran di kelas dengan konten yang di sajikan pada m-learning.
c. Meningkatkan kreatifitas guru dalam menghasilkan konten pembelajaran guna mendukung pelaksanaan m-learning.
d. Menjadikan handphone user dapat digunakan secara optimal dalam hal pendidikan.
e. Mendisain kegiatan pembelajaran yang dibutuhkan oleh siswa dan guru dalam pembelajaran m-learning.

Manfaat perancangan sistem m-learning ini adalah:

a. Bagi Guru : mengetahui adanya cara belajar baru yang dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun dengan memanfaatkan handphone yang disebut dengan m-learning, mengatahui cara penggunaan m-learning, menyiapkan dan mengisi konten m-learning, dapat berinteraksi dengan siswa, dapat mengevaluasi hasil belajar bebasis m-learning.
b. Bagi siswa : dapat belajar kapanpun dan dimanapun dengan memanfaatkan layanan pada m-learning, berdiskusi secara online dan menguji kemampuan diri dengan mengikuti kuis-kuis yang disiapkan dalam pembelajaran m-learning.
c. Bagi Pengembang/Developer : mendapatkan masukan dari user pengguna tentang fitur yang perlu dimiliki oleh sistem m-learning.
d. Bagi Depdiknas : melakukan terobosan baru dibidang pendidikan dengan meningkatkan aksesibilitas siswa terhadap pembelajaran kapanpun dan dimanapun dengan kualitas yang setara dan merata.

Permasalahan

m-learning sebagai salah satu metode pembelajaran baru yang muncul akibat berkembangnya teknologi komunikasi bergerak (mobile communication), sehingga penerapannya secara massal maupun terbatas akan mengalami kendala-kendala dari berbagai masalah yang ditimbulkan. Adapun identifikasi masalah pada penelitian ini
adalah :
a. Adanya kesulitan merubah paradigma belajar, dari belajar secara tatap muka,
terstuktur terjadwal kebelajar secara mandiri, kapanpun dimanapun dan berbasis
teknologi komunikasi dan perangkat bergerak.
b. Adanya keterbatasan infrastuktur pendukung pembelajaran seperti perangkat
komunikasi bergerak (handphone), dukungan operator telokomunikasi (coverage
area), akses internet dan server-server penyedia konten pembelajaran.
c. Adanya kesulitan guru untuk membuat konten pembelajaran berbasis m-learning
dimana adanya keterbatasan kemapuan IT, keterbatasan space ruang baik teks
mapun gambar ditekonologi m-learning.
d. Adanya kesulitan siswa untuk mulai terbiasa belajar menggunakan telepon seluler
(HP) untuk membaca materi dan berdiskusi serta menjawab kuis dengan
pembelajaran m-learning.

Perumusan permasalahan

a.    Permasalahan system

Rumusan masalah dari perancangan sistem m-learning ini adalah :
1) Bagaimanakah materi pembelajaran konvensional dapat disajikan secara online
menggunakan perangat bergerak(handphone).
2) Bagaimana perangkat bergerak dapat mendukung sistem pembelajaran yang telah
dilaksanakan saat ini.
3) Bagaimana dukungan guru, siswa dan sekolah dalam mendukung pola pembelajaran
m-learning.
4) Bagaimana dukungan perangkat bergerak yang dimiliki oleh guru, siswa dalam
mengikuti pembelajaran m-learning.
5) Kegiatan pembelajaran apa saja yang dibutuhkan oleh guru dan siswa dalam
pembelajaran berbasis m-learning.

b.    Usulan pemecahan masala

Sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhan permasalahan di atas, maka perlu
dikembangkan suatu sistem yang diharapkan dapat menjadi bagian solusi dari
permasalahan-permasalahan yang ada. Sistem ini diberi nama Perancangan Sistem mlearning yang berfungsi untuk melakukan pembelajaran secara online menggunakan perangkat bergerak (handphone), pada sistem ini menggunakan sistem komputer berbasis Database Mangement System (DBMS), dengan menerapkan konsep clientserver yang dikases oleh user dengan menggunakan handphone yang memeiliki fasilitas GPRS.
Pembelajaran yang ada dilakukan oleh user, dimana identitas dan hak akses user
tersebut telah diatur di dalam sistem. Setiap pembelajaran yang dilakukan oleh user dapat terekam dalam database server, kemudian data tersebut dapat diolah lebih lanjut oleh sistem guna menghasilkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan m-learning. Hasil pengolahan informasi tersebut dapat menghasilkan laporan-laporan dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan tutor/guru sebagai penyedia kontent pembelajaran m-learning. Sehingga diharapkan dapat membantu pengembang dalam mengembangkan m-learning sesuai dengan fakta nyata yang ada di lapangan.
Adapun keistimewaan yang ada pada sistem ini meliputi :
a. Pembelajaran dapat dilakukan dengan tidak terbatas waktu dan tempat selama
handphone user memiliki fasilitas GPRS;
b. pengelolaan dapat dilakukan secara user friendly, karena sistem dirancang agar
memudahkan user untuk menggunakannya;
c. kontent yang dihasilkan oleh sistem dapat diaksesdengan cepat, mudah, dan akurat;
d. sistem dapat menghasilkan output dari kegiatan pembelajaran online melalui
handphone dengan mengikuti quiz dengan cepat.
e. pengelolaan kontent dapat dilakukan walau terhalang oleh jarak dan waktu karena
data akan terpusat pada database server.
f. konsep client-server memungkinkan user dapat bekerja dimana saja dan kapan saja
tidak terbatas waktu dan tempat.

XV.       Konsep Mobile Learning

Mobile Learning merupakan model pembelajaran yang dilakukan antar tempat atau lingkungan dengan menggunakan teknologi yang mudah dibawa pada saat pembelajar berada pada kondisi mobile/ponsel. Dengan berbagai potensi dan kelebihan yang dimilikinya, Mobile Learning diharapkan akan dapat menjadi sumber belajar alternatif yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses dan hasil belajar peserta didik di Indonesia di masa datang. Program mobile learning yang dimaksud dalam tulisan ini adalah program media pembelajaran berbasis ponsel/HP/mobile yang terdapat pada situs m-edukasi.net. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di dalam dunia pendidikan terus berkembang dalam berbagai strategi dan pola, yang pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam sistem m-Learning sebagai bentuk pembelajaran yang memanfaatkan perangkat elektronik dan media digital, maupun mobile learning (m-learning) sebagai bentuk pembelajaran yang khusus memanfaatkan perangkat dan teknologi komunikasi bergerak.
m-Learning independent of location in time or space”. Berdasarkan definisi
tersebut maka mobile learning merupakan model pembelajaran yang memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Pada konsep pembelajaran tersebut mobile learning membawa manfaat ketersediaan materi ajar yang dapat di akses setiap saat dan visualisasi materi yang menarik. Istilah M-Learning atau Mobile Learning merujuk pada penggunaan perangkatgenggam seperti PDA, ponsel, laptop dan perangkat teknologi informasi yang akan banyak digunakan dalam belajar mengajar, dalam hal ini kita fokuskan pada perangkat handphone(telepon genggam).

XVI.                PENERAPAN MOBILE LEARNING PADA PERKULIAHAN
Tujuan dari pengembangan mobile learning sendiri adalah proses belajar sepanjang waktu (long life learning), siswa/mahasiswa dapat lebih aktif dalam proses pembelajaran, menghemat waktu karena apabila diterapkan dalam proses belajar maka mahasiswa tidak perlu harus hadir di kelas hanya untuk mengumpulkan tugas, cukup tugas tersebut dikirim melalui aplikasi pada mobile phone yang secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas proses belajar itu sendiri. Demikian juga dengan apa bila dosen tidak dapat hadir dalam suatu mata kuliah dosen tersebut bisa menggunakan sistem m-learning untuk menyampaikan atau mengirim suatu materi maupun tugas. Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan pendidik atau instruktur (enhance interactivity) Apabila dirancang secara cermat, Mobile Learning dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan pendidik/instruktur antara sesama mahasiswa, maupun antara mahasiswa dan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua mahasiswa dalam kegiatan konvensional dapat berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaiakan pendapatnya di dalam diskusi. Mengapa? Karena kesempatan yang ada atau yang disediakan pendidik/instruktur untuk berdiskusi sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik yang cepat tanggap dan berani. Keadaan yang demikian ini tidak akan terjadi pada Mobile Learning. mahasiswa yang malu maupun yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas. Dari ilustrasi tersebut di atas, setidak-tidaknya dapat diambil tiga hal penting sebagai
persyaratan kegiatan belajar Mobile Learning, yaitu :


a) kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan (jaringan dalam uraian ini dibatasi pada penggunaan internet), jaringan dapat saja dengan LAN atau WAN
 b) tersedianya dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa, misalnya ponsel/HP, atau bahan cetak; dan
 c)tersedianya dukungan layanan tutor yang dapat membantu mahasiswa apabila mengalamikesulitan.

Fungsi dan Manfaat Mobile Learning

Terdapat tiga fungsi Mobile Learning dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu sebagai suplement (tambahan) yang sifatnya pilihan (opsional), pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi).
a.      Suplemen (tambahan)

Mobile Learning berfungsi sebagai suplement (tambahan), yaitu: peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi Mobile Learning atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi Mobile Learning. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.
b.      Komplemen (pelengkap)

Mobile Learning berfungsi sebagai komplemen (pelengkap), yaitu: materinya diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas. Di sini berarti materi Mobile Learning diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (penguatan) atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. Materi Mobile Learning dikatakan sebagai enrichment (pengayaan), apabila kepada peserta didik yang dapat dengan cepat menguasai/memahami materi pelajaran yang disampaikan pendidik secara tatap muka (fast learners) diberikan kesempatan untuk mengakses materi Mobile Learning yang memang secara khusus dikembangkan untuk mereka. Tujuannya agar semakin memantapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran yang disajikan pendidik di dalam kelas. Dikatakan sebagai program remedial, apabila kepada peserta didik yang mengalami kesulitan
memahami materi pelajaran yang disajikan pendidik secara tatap muka di kelas peserta didik yang memahami materi dengan lambat (slow learner) diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi Mobile Learning yang memang secara khusus dirancang untuk mereka. Tujuannya agar peserta didik semakin lebih mudah memahami materi pelajaran yang disajikan pendidik di kelas.

c.       Substitusi (pengganti)

Beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran kepada para peserta didik /siswanya. Tujuannya agar para peserta didik dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktifitas sehari-hari peserta didik. Ada tiga alternative model kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih
peserta didik, yaitu:
a.      sepenuhnya secara tatap muka (konvensional)
b.      sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet
c.       sepenuhnya melalui internet.
Alternatif model pembelajaran manapun yang akan dipilih peserta didik tidak menjadi masalah dalam penilaian, karena semua model penyajian materi perkualiahan mendapatkan pengakuan atau penilaian yang sama. Jika peserta didik dapat menyelesaiakan program perkuliahannya dan lulus melalui cara konvensional atau sepenuhnya melalui internet, atau melalui perpaduan kedua model ini, maka instusi penyelenggara pendidikan akan memberikan pengakuan yang sama. Keadaan yang sangat fleksibel ini dinilai sangat membantu untuk mempercepat penyelesaian perkuliahannya. Karakteristik dan perangkat yang diperlukan oleh Mobile Learning antara lain adalah :
a.       Memanfaatkan jasa teknologi elektronik; antara pendidik dan peserta didik, antar peserta didik sendiri, atau antar pendidik-pendidik, dapat berkomunikasi dengan relative mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler
b.       Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer network)
c.       Menggunakan bahan ajar yang bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di ponsel/komputer sehingga dapat diakses oleh pendidik dan peserta didik kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya
d.      Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan yang dapat dilihat setiap saat di ponsel atau komputer.














KEIMPULAN



Teknologi Informasi dan telekomuniasi banyak menciptakan terobosan baru dalam belajar, Perangkat bergerak (mobile device)-pun dapat dipakai sebagai media belajar. Pengguna perangkat mobile semakin banyak lebih banyak dari PC sehingga tuntutan (demand) terhadap pembelajaran yang praktis dan mudah diakses. M-learning tidak akan sepenuhnya menggantikan e-learning tradisional, lebih sesuai di lingkungan di mana computer aided learning tidak tersedia dan sistem yang optimal adalah menggabungkan m-learning dengan e-learning. Rata-rata perangkat yang dimiliki oleh Dosen lebih dari satu, Teknologi komunikasi GSM dan CDM serta dapat melakukan akses internet menggunakan GPRS.

Dan dengan adanya m-learning proses belajar akan tetap berjalan di mana dalam suatu pembelajaran ada sebuah ganguan dan seorang pengajar atau dosen tetap bisa memberi kuliah walaupun menggunakan sebuah sistem m-learning .

Sekian tugas ini saya buat mungkin kalau ada lebih dan kurangnya saya mohon maaf , terimakasih.












DAFTAR PUSTAKA







1 komentar: